Tanggal Posting

May 2012
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Aktifitas


Ikhlas

oleh Islisyah Asman*

Jika ada pengemban dakwah merasa kering jiwanya, gersang ukhuwah, keras hati, hasad, banyak berselisih dan beda pendapat dengan yang lain, mengarah ke permusuhan, berarti ada yang salah pada mereka. Itu tidak boleh dibiarkan dan harus ada solusi tepat dan segera. Kesalahannya ada pada hati yang rusak, dan kecenderungan pada syahwat.

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (Al-Hajj: 46).

“Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati” (Muttafaqun ‘alaihi).

Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia”.

Kedudukan Ikhlas

Kesehatan “hati” lebih utama dari kesehatan fisik. Ia pangkal kebaikan dan keburukan. Bila hati bermasalah, obat mujarab ada pada kata: ikhlas.

Ikhlas adalah buah dan intisari iman. Seseorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Al-An’am: 162).

“Mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al Bayyinah 5).

Rasulullah Saw bersabda: “Ikhlaslah dalam beragama; itu cukup bagimu walau dengan amal yang sedikit”.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridhaNya”.

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasulullah Saw berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihatmu”.

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 (“Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”) dengan makna:

Akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Jika amal benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla, dan benar jika dilakukan sesuai sunnah”. Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah SWT pada surat Al Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya:

“Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad sungguh-sungguh agar seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Tetapi ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla”.

Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan: “Amal tanpa ikhlas adalah musafir yang mengisi kantongnya dengan kerikil pasir: Memberatkannya tetapi tidak bermanfaat”.

Dalam kesempatan lain beliau berkata: “Jika ilmu yang bermanfaat tanpa diamalkan, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik”.

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan membuat sesuatu menjadi bersih, tidak kotor. Orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembahNya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti berniat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukanNya, memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak dan menodai.

Ikhlas itu ibarat orang yang sedang membersihkan beras (menampi  beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Ia dimasak dan menjadi nikmat dimakan. Jika kotor, ketika dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil.

Ikhlas menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan pengorbanan tidak terasa berat. Amal yang dilakukan dengan riya menyebabkan tidak nikmat, ia mudah menyerah dan selalu kecewa.

Bagi seorang pengemban dakwah, makna ikhlas adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridhaNya, dan kebaikan pahalaNya tanpa melihat pada dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan berbagai kepentingan lainnya.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku”.

Mereka itu punya semboyan: Allahu Ghayaatunaa‘, (Allah tujuan kami), dan mengisi segala aktivitas hidupnya.

Buruknya Riya

Riya adalah memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS An-Nisaa ayat 142).

Riya juga merupakan cabang kemusyrikan. Rasulullah saw. Bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil”.

Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, ya Rasulullah?”

Rasulullah saw. Menjawab: “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hambaNya, ‘Pergilah kepada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?” (HR Ahmad).

Orang yang riya pasti mendapat hukuman dari Allah SWT. Di mata orang, mereka telah melakukan amalan terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, tetapi mereka itu semuanya akan diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah.

Kata Rasulullah Saw: “Siapa saja yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wewangian  surga di hari akhir” (HR Abu Dawud).

Ciri Ikhlas

Orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, di antaranya:

1.  Tidak Riya

Ia konsisten beramal, bersungguh-sungguh, dan tetap melakukan amalan, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, tidak perlu pujian atau gundah oleh celaan.

“Orang yang riya memiliki beberapa ciri: malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela” (Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra).

Waktulah yang menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Ia pasti melaluinya dengan ujian dan cobaan, suka maupun duka, akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

Allah SWT telah menjelaskan sifat orang beriman yang ikhlas, dan menjelaskan sifat orang munafik, serta membuka kedok dan kebusukan mereka.

“Orang-orang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Allah tahu siapa yang bertakwa. Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu. Mereka selalu bimbang dalam keraguannya” (QS At-Taubah 44-45).

2.  Menjaga Diri dari Hal Haram

Ia berusaha menjaga dirinya dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka.

“Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah” (HR Ibnu Majah)

3.  Tetap Senang Beramal Sendiri dan atau dengan Orang Lain

Dalam dakwah, akan terlihat seorang pengemban dakwah yang ikhlas merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama mereka, dan ia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

Penutup

Tujuan ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Orang yang ikhlas senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Mereka yakin Allah Mahamelihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

Para pengemban dakwah yang ikhlas menyadari kelemahan dan kekurangannya, senantiasa membangun amal jama’i dalam dakwahnya, menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah, berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>